Kontributor Yayasan PSPMAS Turut Serta Meluncurkan Buku, Diskusi Buku, dan Musikalisasi Puisi “Kebun Binatang Tipe 36”

whatsapp image 2025 12 29 at 17.20.20 (3)

Dalam kegiatan bedah buku Kebun Binatang Tipe 36, akademisi pendidikan biologi Lola Zeramenda yang merupakan perwakilan Yayasan PSPMAS dan Universitas Royal menjadi kontributor. Menegaskan bahwa karya sastra, khususnya puisi memiliki potensi besar sebagai media alternatif dalam edukasi biologi dan literasi lingkungan. Kegiatan ini menjadi ruang dialog lintas disiplin antara sastra, biologi, dan pendidikan ekologis.

Buku Kebun Binatang Tipe 36 menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda dari buku biologi konvensional. “Biografi hewan dalam buku ini tidak sekadar memaparkan ciri atau perilaku satwa, tetapi menghadirkan mereka sebagai subjek kehidupan yang memiliki sejarah, ruang, dan keterbatasan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan ini mampu membangun empati dan kesadaran etis pembaca terhadap relasi manusia dan satwa.

Lola juga menyoroti pilihan medium puisi dalam merepresentasikan hewan. Ia membandingkan puisi dengan fabel yang selama ini lebih dominan dalam narasi tentang satwa. “Fabel sering kali menjadikan hewan sebagai simbol moral manusia. Sementara puisi memberi ruang kontemplatif yang lebih jujur—hewan tetap sebagai hewan, dengan tubuh, naluri, dan lingkungannya,” jelasnya. Melalui puisi, pembaca diajak merefleksikan isu kurungan, dominasi manusia, dan krisis ekologis secara lebih mendalam.

whatsapp image 2025 12 29 at 17.20.20 (5)

Dalam konteks pendidikan biologi, Lola menegaskan pentingnya bacaan penunjang di luar buku teori. Ia menilai bahwa pembelajaran biologi tidak cukup hanya berfokus pada aspek kognitif dan klasifikasi ilmiah. “Biologi juga menyangkut nilai, etika, dan tanggung jawab ekologis. Sastra—termasuk puisi—dapat menjadi jembatan antara pengetahuan ilmiah dan kepekaan emosional,” katanya.

Lebih lanjut, Lola menjelaskan bahwa Kebun Binatang Tipe 36 berkontribusi pada edukasi biologi yang holistik. Pembaca tidak hanya memperoleh gambaran tentang perilaku dan habitat satwa, tetapi juga memahami dampak penangkaran, perubahan lingkungan, serta relasi ekologis yang kompleks. “Puisi dalam buku ini mengajarkan bahwa manusia bukan pusat kehidupan, melainkan bagian dari jejaring ekosistem,” tambahnya.

Kegiatan bedah buku ini diharapkan dapat membuka ruang baru bagi inovasi pembelajaran biologi berbasis literasi dan seni, serta mendorong pendidik untuk lebih kreatif dalam menanamkan kesadaran konservasi sejak dini. Dengan pendekatan lintas disiplin, Kebun Binatang Tipe 36 dinilai relevan sebagai bacaan reflektif bagi pendidik, mahasiswa biologi, maupun masyarakat umum yang peduli pada isu lingkungan.