Dari Sampah Jadi Rupiah: Yayasan PSPMAS Gandeng Masyarakat Telaga Said Luncurkan Rumah Kompos Berbasis Kemitraan

6197396074939928574
6197396074939928572

DESA TELAGA SAIT, LANGKAT – Inovasi nyata dalam pengelolaan lingkungan lahir dari kolaborasi. Yayasan PSPMAS, bersama masyarakat Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, secara resmi meluncurkan “Program Kemitraan Rumah Kompos”. Program ini merupakan terobosan pengolahan sampah organik yang dirancang untuk membersihkan lingkungan, menciptakan nilai ekonomi, dan memperkuat modal sosial melalui prinsip gotong royong.

Peluncuran program ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain Prof. Ir. Tri Martial, MP, serta perwakilan Yayasan PSPMAS Fahman Urdawi Nasution, S.H., M.H., Ahmad Rizki Harahap, S.Pd., M.S.i, Muhammad Arief Tirtana, S.Pd., M.S.i, dan Lola Zaramenda, S.Pd., M.Pd. Kehadiran mereka memperkuat komitmen pendampingan dan dukungan keilmuan bagi keberlanjutan program. Hadir pula Praktisi Dr. Taslim Harefa, M.P. yang berbagi insight praktis, serta Pengawas Desa Ponimin, M.P. yang mewakili pemerintah setempat.

Program ini menjawab persoalan sampah organik rumah tangga—seperti sisa makanan dan dedaunan—yang sering menumpuk tanpa penanganan optimal. Melalui pendekatan kemitraan, Yayasan PSPMAS bersama kelompok masyarakat membangun dan mengelola Rumah Kompos sebagai pusat edukasi dan produksi.

Mekanisme Berbasis Partisipasi
Masyarakat diajak aktif memilah sampah organik dari rumah. Sampah kemudian dikumpulkan di Rumah Kompos untuk diolah menjadi kompos berkualitas. Seluruh proses—dari pengumpulan, pencacahan, fermentasi, hingga pengemasan—dilakukan secara partisipatif dengan pendampingan tim PSPMAS dan praktisi.

“Program ini bukan sekadar membangun fasilitas, tapi membangun kesadaran dan kemandirian. Sampah yang tadinya masalah, kini bisa menjadi sumber pupuk bagi kebun dan bahkan produk yang bernilai jual,” ujar Prof. Ir. Tri Martial, MP dalam sambutannya.

Dampak Multidimensi yang Diharapkan:

  1. Lingkungan: Penurunan signifikan volume sampah yang dibuang ke TPA.
  2. Ekonomi: Kompos dapat digunakan untuk pertanian warga (menghemat biaya) dan memiliki potensi dijual.
  3. Edukasi: Peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah dan pertanian organik.
  4. Sosial: Penguatan kohesi sosial melalui kerja sama dan tanggung jawab kolektif.

“Ini adalah bentuk nyata pemberdayaan yang partisipatif. Keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara yayasan, akademisi, praktisi, dan yang terpenting, masyarakat sendiri,” tambah Dr. Taslim Harefa, M.P..

Kehadiran Pengawas Desa Ponimin, M.P. juga menjadi sinyal dukungan pemerintah desa terhadap inisiatif berkelanjutan ini. Program Rumah Kompos diharapkan tidak hanya sukses di Telaga Said, tetapi juga dapat menjadi model replikasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Langkat.

Dengan semangat “dari kita, oleh kita, untuk kita”, program ini mengubah limbah rumah tangga menjadi berkah yang menyuburkan tanah dan masa depan desa.