Inovasi Iptek untuk Ketangguhan Bangsa: Universitas Samudra Terapkan Pendampingan Psikososial Berbasis MHPSS bagi Penyintas Banjir Bandang di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang – Universitas Samudra kembali menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam merespons krisis kemanusiaan melalui penerapan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pemulihan penyintas banjir bandang di Desa Kaseh Sayang, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang.

whatsapp image 2026 04 15 at 08.13.47 (1)

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2026, Universitas Samudra mengimplementasikan model Penguatan Resiliensi Komunitas Terdampak Banjir Bandang melalui Pendampingan Psikososial yang terstruktur, berbasis riset, dan berorientasi keberlanjutan.

Program ini dipimpin oleh Dosen Fakultas Hukum, Rika Afrida Yanti, S.H.I., M.H., yang akrab disapa Bu Ayick, dengan melibatkan mahasiswa lintas angkatan sebagai fasilitator lapangan dan juga didukung oleh bapak Fahman Urdawi Nasution, S.H., M.H. selaku dosen internal sekaligus pengawas Yayasan PSPMAS. Pendekatan yang diterapkan tidak hanya bersifat responsif, tetapi juga transformative dalam mengintegrasikan dimensi sosial, psikologis, dan pemberdayaan komunitas dalam satu kerangka intervensi yang sistematis.

MHPSS: Kerangka Global dalam Konteks Lokal

Program ini mengadopsi pendekatan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS), sebuah kerangka intervensi global yang telah digunakan dalam berbagai respons kemanusiaan internasional. Pendekatan ini menempatkan kesehatan mental sebagai elemen kunci dalam proses rehabilitasi sosial pascabencana.

“Bencana tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga meruntuhkan rasa aman, stabilitas emosi, dan kepercayaan diri masyarakat. Pemulihan yang komprehensif harus menyentuh dimensi psikologis secara simultan dengan pemulihan fisik,” ujar Rika Afrida Yanti.

Pendampingan dirancang secara terstruktur dengan menempatkan dua kelompok kunci sebagai pusat intervensi. Pertama, anak-anak sebagai kelompok paling rentan yang terdampak secara psikologis, sosial, dan pendidikan akibat bencana, yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan trauma, tetapi juga pada penguatan resiliensi, pemulihan rasa aman, serta pembangunan kembali semangat belajar dan interaksi sosial mereka.

Kedua, kader Posyandu atau PKK yang diposisikan sebagai aktor strategis di tingkat komunitas. Mereka bukan sekadar penerima program, melainkan mitra utama dalam proses transfer pengetahuan, penguatan kapasitas, dan keberlanjutan program. Melalui peningkatan kapasitas kader, diharapkan terbentuknya sistem dukungan sosial berbasis masyarakat yang mampu merespons kondisi krisis secara cepat, adaptif, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, program tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi membangun fondasi ketahanan sosial dari dalam komunitas itu sendiri.

Trauma Healing Berbasis Aktivitas dan Reaktivasi Ruang Aman

Intervensi kepada anak-anak dilakukan melalui metode trauma healing berbasis aktivitas kelompok seperti play therapy, menggambar dan mewarnai, storytelling literatif, serta penggunaan media audio-visual ramah anak. Pendekatan ini dirancang untuk membantu anak mengekspresikan emosi secara konstruktif, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali kapasitas interaksi sosial.

Sebagai bagian dari strategi pemulihan yang ramah anak, tim pengabdian juga menghadirkan dukungan stimulatif berupa buku gambar, krayon, susu UHT, biskuit bergizi, serta membangun mini playground di sudut Posyandu. Inisiatif ini tidak sekadar menghadirkan sarana bermain, tetapi menghidupkan kembali Posyandu sebagai safe space atau ruang aman yang mendukung tumbuh kembang anak pascabencana.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan psikososial dapat dilakukan melalui integrasi antara dukungan emosional dan penguatan ruang sosial komunitas.

whatsapp image 2026 04 15 at 08.13.47

Penguatan Kapasitas Lokal dan Keberlanjutan

Keunggulan program ini terletak pada strategi keberlanjutannya. Selain intervensi langsung, Rika Afrida Yanti, S.HI., M.H menyelenggarakan pelatihan bagi kader Posyandu mengenai dampak psikologis pascabencana, prinsip dasar MHPSS, teknik Psychological First Aid (PFA), serta komunikasi empatik dan etika pendampingan.

Dengan pembekalan tersebut, komunitas desa memiliki kapasitas untuk melanjutkan dukungan psikososial secara mandiri setelah program selesai.

“Ketahanan komunitas tidak bisa dibangun dari luar secara permanen. Ia harus tumbuh dari dalam melalui penguatan kapasitas masyarakat itu sendiri,” tegas Rika.

Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Desa

Partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi keberhasilan program ini. Sinergi antara akademisi dan pemerintah desa mempercepat proses pemulihan sosial di Desa Kaseh Sayang.

Kepala Desa (Datok Penghulu) Kaseh Sayang, Bustamam, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Fakultas hukum Universitas Samudra dalam membangun kembali optimisme masyarakat.

“Pemerintah Desa Kaseh Sayang mengucapkan terima kasih kepada dosen dan mahasiswa Universitas Samudra atas kepedulian dan program yang telah dilaksanakan di desa kami. Kehadiran Ibu Rika Afrida Yanti beserta tim menjadi energi baru bagi masyarakat, khususnya anak-anak. Mini playground yang dibangun di Posyandu bukan sekadar sarana bermain, tetapi simbol bahwa desa kami sedang bangkit kembali. Ini membuktikan bahwa perguruan tinggi benar-benar hadir dan berkontribusi nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Iptek untuk Kemanusiaan dan Ketangguhan Bangsa

Program ini dilaksanakan melalui tahapan terstruktur mulai dari asesmen awal, sosialisasi, pelatihan, implementasi intervensi, hingga monitoring dan evaluasi. Mahasiswa yang terlibat memperoleh pengalaman pembelajaran kontekstual, memperkuat integrasi antara teori akademik dan praktik kemanusiaan di lapangan.

Lebih dari sekadar program pengabdian, inisiatif ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki dimensi etik dan sosial. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga aktor strategis dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi risiko bencana yang semakin kompleks akibat perubahan iklim.

Banjir bandang memang meninggalkan luka fisik dan emosional di Desa Kaseh Sayang. Namun melalui pendekatan ilmiah yang humanis dan kolaboratif, proses pemulihan diarahkan pada penguatan resiliensi jangka panjang. Sebab pada akhirnya, membangun kembali bukan hanya tentang memperbaiki yang rusak, melainkan tentang meneguhkan kembali daya tahan sosial, agar masyarakat tidak sekadar pulih, tetapi tumbuh menjadi lebih tangguh, adaptif, dan berdaya menghadapi masa depan.

whatsapp image 2026 04 15 at 08.09.04