SISPADU Universitas Tjut Nyak Dhien Ubah Limbah Sawit Menjadi Pakan Ternak dan Pupuk Organik

Universitas Tjut Nyak Dhien memperkenalkan Model SISPADU (Sawit-Sapi Terpadu) sebagai solusi pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit dan kotoran ternak menjadi pakan ternak serta pupuk organik bernilai ekonomi di Desa Limau Mungkur, Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat.

whatsapp image 2026 07 15 at 19.17.55

Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan Ketua Prof. Dr. Ir. Tri Martial, MP., dan anggota Dr. Irwan Agusnu Putra, SP., MP. , serta Dr. Randi Mulianda, S.Pt., M.Pt,. tersebut dilaksanakan pada 21 Juni 2026 bersama Kelompok Tani Murni dengan melibatkan 15 peserta yang terdiri dari Ketua Kelompok Tani Murni Edi Susanto, petani anggota kelompok, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Selamat, SST, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Bambang Wahyudi, SP., MP., serta Kepala Desa Limau Mungkur Suprayetno..

Ketua Tim Pengabdian Universitas Tjut Nyak Dhien, Prof. Dr. Ir. Tri Martial, M.P., mengatakan Model SISPADU dikembangkan untuk mengintegrasikan usaha perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi sehingga mampu meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

“Melalui Model SISPADU, kami ingin membangun sistem yang saling terintegrasi antara usaha sawit dan peternakan sapi. Limbah ternak dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk kebun sawit, sedangkan limbah perkebunan diolah menjadi sumber pakan ternak sehingga tercipta siklus produksi yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Tri Martial, masyarakat Desa Limau Mungkur memiliki potensi besar mengembangkan sistem integrasi sawit dan sapi. Namun, petani masih menghadapi sejumlah kendala, di antaranya tingginya biaya pupuk, keterbatasan pakan ternak, serta belum optimalnya pemanfaatan limbah perkebunan.

Dalam program tersebut, tim pengabdian memperkenalkan teknologi FERMATIKSA (Fermentasi Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pelepah Sawit). Teknologi ini mengolah limbah pelepah sawit dan bahan organik lainnya melalui proses pencacahan dan fermentasi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak sapi.

Selain mengatasi keterbatasan pakan, teknologi tersebut juga diharapkan mampu mengurangi limbah perkebunan sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal.

Tim pengabdian juga memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan pupuk organik cair (biourine) berbahan dasar kotoran sapi. Produk tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung produktivitas kebun sawit dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Sebagai bagian dari penerapan sistem terpadu, peserta juga diperkenalkan dengan sistem grazing terkontrol yang mengatur pola penggembalaan sapi di area perkebunan sawit. Sistem ini memungkinkan ternak memanfaatkan hijauan di bawah tegakan sawit sekaligus membantu mengendalikan vegetasi.

Ketua Kelompok Tani Murni, Edi Susanto, mengaku pendampingan yang diberikan memberikan wawasan baru bagi petani dalam memanfaatkan limbah pertanian.

“Selama ini limbah sawit dan kotoran ternak belum dimanfaatkan secara maksimal. Kini kami mengetahui bahwa limbah tersebut dapat diolah menjadi pupuk dan pakan ternak sehingga membantu menekan biaya usaha tani,” katanya.

Kepala Desa Limau Mungkur, Suprayetno, mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan kelompok tani dalam menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, pendampingan seperti ini membuka peluang bagi petani untuk mengembangkan usaha pertanian yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

Adapun program pengabdian tersebut berjalan dengan didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Tahun 2026.

whatsapp image 2026 07 15 at 19.17.56

Pelaksanaannya turut didukung Yayasan Pusat Studi Pembangunan Manusia dan Alam Sekitar yang beranggotakan Ahmad Rizki Harahap, S.Pd., M.Si., yang juga merupakan dosen Universitas Deli Sumatera, kemudian Fahman Urdawi Nasution, SH., MH , yang juga dosen Universitas Samudera, serta Muhammad Arief Tirtana, S.Pd., M.Si., yang merupakan Dosen Universitas Tjut Nyak Dhien, kegiatan tersebut juga didukung bersama para mitra pendamping.